Translate language

Minggu, 07 Oktober 2012

"Contoh-contoh sikap Positif terhadap Kelima sila Pancasila"


Contoh sikap positif terhadap pancasila sesuai dengan kelima sila dalam pancasila. Berikut ini adalah penjabaran dari sikap-sikap positif yang sebaiknya kita lakukan terhadap pancasila sebagai ideologi terbuka.
1. Contoh sikap positif terhadap pancasila pada sila pertama seperti :


1. Contoh sikap positif terhadap pancasila pada sila pertama seperti :


  1. melaksanakan kewajiban dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. membina kerjasama dan tolong menolong antar umat beragama
  3. mengembangkan sikap saling bertoleransi
  4. tidak memaksakan kehendak

2. Contoh sikap positif terhadap pancasila pada sila kedua yaitu :

  1. memperlakukan manusia sesuai harkat dan martabatnya
  2. mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan
  3. mengembangkan sikap tenggang rasa dan tidak semena-mena tehadap orang lain
  4. gemar melakukan kegiatan kemanusiaan

3. Contoh sikap positif terhadap pancasila pada sila ketiga yaitu :

  1. sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara
  2. bangga dan cinta terhadap tanah air
  3. mengembangkan sikap persatuan dan kesatuan
  4. memajukan pergaulan demi peraturan bangsa

4. Contoh sikap positif terhadap pancasila pada sila keempat yaitu :

  1. mengutamakan musyawarah mufakat
  2. tidak boleh memaksakan kehendak
  3. mengakui bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama
  4. memberikan kepercayaan pada wakil-wakil rakyat yang telah dipilih

5. Contoh sikap positif terhadap pancasila pada sila kelima yaitu :

  1. mengembangkan sikap gotong royong dan kekeluargaan
  2. tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan umum
  3. suka berkerja keras dalam memecahkan atau mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang dihadapi
  4. suka melakukan perbuatan dalam rangka mewujudkan kemajuan dan keadilan sosial


Pengertian dari contoh sila pertama Pancsila yaitu:
Mengembangkan sikap toleransi.
MENGEMBANGKAN SIKAP TOLERANSI
Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Pengertian secara luas yaitu suatu sikap atau perilaku
manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan.
Toleransi secara bahasa bermakna sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri (Kamus Besar B.Indonesia Edisi. 2 Cetakan 4 Th.1995).
Sedangkan pengertian toleransi sebagai istilah budaya, sosial dan politik, ia adalah simbol kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik - menarik atau saling berkonfrontasi untuk kemudian bahu - membahu membela kepentingan bersama, menjaganya dan memperjuangkannya.
Toleransi juga dapat dikatakan istilah dalam konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya deskriminasi terhadap kelompok - kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama - agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip - prinsip toleransi baik dari kaum liberal maupun konservatif. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.








Ada tiga macam sikap toleransi, yaitu :
a.     Negatif: Isi ajaran dan penganutnya tidak dihargai. Isi ajaran dan penganutnya hanya dibiarkan saja karena dalam keadaan terpaksa. Contoh PKI atau orang-orang yang beraliran komunis di Indonesia pada zaman Indonesia baru merdeka.
b.     Positif: Isi ajaran ditolak, tetapi penganutnya diterima serta dihargai. Contoh Anda beragama Islam wajib hukumnya menolak ajaran agama lain didasari oleh keyakinan pada ajaran agama Anda, tetapi penganutnya atau manusianya Anda hargai.
c.     Ekumenis: Isi ajaran serta penganutnya dihargai, karena dalam ajaran mereka itu terdapat unsur-unsur kebenaran yang berguna untuk memperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri. Contoh Anda dengan teman Anda sama-sama beragama Islam atau Kristen tetapi berbeda aliran atau paham.
Selanjutnya manakah gambar atau ilustrasi di bawah ini yang sesuai dengan sikap toleransi yang benar.
http://www.menu.sman3-kag.sch.id/onnet/onnet3/content/images/ppkn3a.jpg
http://www.menu.sman3-kag.sch.id/onnet/onnet3/content/images/ppkn3b.jpg
Pengertian Toleransi, Sikap dan Perilaku Toleransi.
Menurut kamus bahasa Indonesia oleh W.J.S. Poerwodarmintopengertian sikap adalah perbuatan yang didasari oleh keyakinanberdasarkan normanorma yang ada di masyarakat dan biasanya normaagama. Namun demikian perbuatan yang akan dilakukan manusiabiasanya tergantung apa permasalahannya serta benar benar berdasarkan keyakinan atau kepercayaannya masing-masing.Apakah kita paham pengertian sikap menurut W.J.S.Poerwodarminto? Bila sudah paham kita lanjutkan dengan pengertiantoleransi.
Toleransi
berasal dari bahasa Latin;
tolerare
artinya menahan diri,bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapangterhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Sikap tolerantidak berarti membenarkan pandangan yang dibiarkan itu, tetapi mengakuikebebasan serta hak-hak asasi para penganutnya.
Toole' 
'' 
Teks tebal
adalah istilah dalam kontekssosial,budayadanagamayang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanyadescrimination/ deskriminasi / pembedaan terhadap kelompok-kelompok

yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatumasyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganutmayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakandefinisi "kelompok" yang lebih luas, misalnyapartai politik,orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritikmengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaumliberalmaupunconservative.Ada tiga macam sikap toleransi, yaitu:
a.
Negatif 
: Isi ajaran dan penganutnya tidak dihargai. Isi ajaran danpenganutnya hanya dibiarkan saja karena dalam keadaan terpaksa.
Contoh
PKI atau orang-orang yang beraliran komunis di Indonesiapada zaman Indonesia baru merdeka.
 b.
Positif 
: Isi ajaran ditolak, tetapi penganutnya diterima serta dihargai.
Contoh
Anda beragama Islam wajib hukumnya menolak ajaran agamalain didasari oleh keyakinan pada ajaran agama Anda, tetapipenganutnya atau manusianya Anda hargai.
c.
Ekumenis:
Isi ajaran serta penganutnya dihargai, karena dalam ajaranmereka itu terdapat unsur-unsur kebenaran yang berguna untukmemperdalam pendirian dan kepercayaan sendiri.
Contoh
Andadengan teman Anda sama-sama beragama Islam atau Kristen tetapiberbeda aliran atau paham.Selanjutnya kita bermain, manakah gambar atau ilustrasi di bawah iniyang sesuai dengan sikap toleransi yang benar.
http://htmlimg3.scribdassets.com/2ubvl2qfggtrkes/images/2-ade1ac4097.jpghttp://htmlimg3.scribdassets.com/2ubvl2qfggtrkes/images/2-ade1ac4097.jpg

Jika kita memilih gambar nomor 4 berarti kita tepat. Mengapa, karenamemang pada gambar 4 tersebut menunjukkan adanya sikap dan perilakutoleransi dalam kehidupan beragama.Bagaimana? Apakah kita paham? Jika sudah paham kita akan belajar tentang sikap toleransi sejati?
Toleransi sejati
didasarkan pada sikap hormat terhadap martabatmanusia, hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama apapunagama, suku, golongan, ideologi, atau pandangannya. Seorang yangtoleran berani mengadakan wawancara atau berdialog dengan sikap







http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQEcfPO8tPIBSZyN6jLSrLIcGNqlD1qtbKFz6_1Z06AQF5U5xSO                                     http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQBY7mOOycj8DkubA0sLAlryF08uVnN5cFXPETRhpM6-ziToRHF

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRDKZJTOnqBnJLDk1fe_d-vs6Q35hV80DfEMiIYcVi1xAfnjVi4            http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR9P0OVpZrK9Vja3o-5sQet28X0c1ThYo7gT0uLQkQxTD3rbbK0vg




Pengertian dari contoh sila Kedua Pancsila yaitu:
memperlakukan manusia sesuai harkat dan martabatnya


Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah mengandung nilai suatu  kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungannya.
Dalam kehidupan kenegaraan harus senantiasa dilandasi oleh moral kemanusiaan antara lain dalam kehidupan pemerintahan negara, politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan serta dalam kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, dalam kehidupan bersama dalam negara harus dijiwai oleh moral kemanusiaan untuk saling menghargai sekalipun terdapat suatu perbedaan karena hal itu merupakan suatu bawaan kodrat manusia untuk saling menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama.
Nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil. Hal ini mengandung suatu pengertian bahwa hakikat manusia harus adil dalam hubungan dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap masyarakat bangsa dan negara, adil terhadap lingkungannya serta adil terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Konsekuensinya nilai yang terkandung dalam Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menghargai atas kesamaan hak dan derajat tanpa membedakan suku, ras, keturunan, status sosial maupun agama. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (Darmodihardjo, 1996).
Nilai dasar dari sila kedua mencakup peningkatan martabat, hak, dan kewajiban asasi warga negara, penghapusan penjajahan, kesengsaraan dan ketidak adilan dari muka bumi. Harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa. Tidak semena-mena terhadap orang lain. Menjunjung tinggi          nilai-nilai kemanusian. Gemar melakukan kegiatan kemanusian. Berani membela kebenaran dan keadilan hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa 2 lain.
Sumber hukum dari sila kedua adalah:
Pengertian manusiawi, merupakan prinsip yang mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam hubungan ini, maka salah satu upaya pemerintah meningkatkan derajat dan harkat manusia itu sendiri, melalui berbagai program. Antara lain perbaikan dan pemugaran kampung-kampung kumuh, pembinaan pedagang kaki lima, penyelesaian masalah becak, pembangunan rumah susun bagi golongan penghasilan rendah dan lain sebagainya.
Wibawa berarti kewajiban yang merupakan nilai keutamaan yang artinya disegani dan dihormati, bukannya ditakuti oleh karena kekuatan, kekuasaan maupun kekayaan, tetapi karena mampu tampil sebagai teladan, berprestasi dan mengayomi serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Dalam menegakkan kewibawaan ini, pemerintah senantiasa berupaya menegakkan hukum secara konsisten sesuai dengan aturan yang ada, melalui tindakan tegas terhadap pelanggar pembangunan gedung, pasar, pompa bensin yang tidak sesuai rencana kota atau tidak memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan), pelaksanaan yustisi, penertiban bangunan liar, penindakan terhadap pejabat dan pegawai yang melakukan penyimpangan juga merupakan salah satu upaya penegakan wibawa.

 Dalam diri setiap bangsa Indonesia harus tertanam nilai cinta terhadap sesama manusia sebagai cerminan rasa kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, mengembangkan sikap tenggang rasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai sesama anggota masyarakat, kita harus mengembangkan sikap tolong-menolong dan saling mencintai. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh suasana kemanusian dan saling mencintai.



http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQhLdklgbTfLD_R12hZgwTwexbP_2aURtouE_BwAXmQ9s4t0Gaw      http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQQZBoIauSC4jN6HF2sLUcYWadeKT881jyZXqRfZg7mIpUh8uJH

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQDCGrYmI9FVmCjNCTBOF8ScVM8__Suhr9KCrnIgEebCXgjGo68eg

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ2xhB8DQ2Wh7LnRPMWdqvXw0PAqjC4p5xsro6Q7-SH1sapaV5EAw




Pengertian dari contoh sila ketiga Pancsila yaitu:
Mengembangkan sikap Persatuan
Pengertian Persatuan dan Kesatuan Bangsa
- Persatuan:
Persatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh atau tidak terpecah-belah. Persatuan mengandung arti “bersatunya macam-macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi.”
- Indonesia:
Mengandung dua pengertian, yaitu pengertian Indonesia ditinjau dari segi geografis dan dari segi bangsa.
Dari segi geografis, Indonesia berarti bagian bumi yang membentang dari 95° sampai 141° Bujur Timur dan 6° Lintang Utara sampai 11o Lintang Selatan atau wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Indonesia dalam arti luas adalah seluruh rakyat yang merasa senasib dan sepenanggungan yang bermukim di dalam wilayah itu.
Persatuan Indonesia berarti persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Persatuan itu didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat.
Makna Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kita rasakan saat ini, itu terjadi dalam proses yang dinamis dan berlangsung lama, karena persatuan dan kesatuan bangsa terbentuk dari proses yang tumbuh dari unsur-unsur sosial budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang ditempa dalam jangkauan waktu yang lama sekali.
Unsur-unsur sosial budaya itu antara lain seperti sifat kekeluargaan dan jiwa gotong-royong. Kedua unsur itu merupakan sifat-sifat pokok bangsa Indonesia yang dituntun oleh asas kemanusiaan dan kebudayaan.
Karena masuknya kebudayaan dari luar, maka terjadi proses akulturasi (percampuran kebudayaan). Kebudayaan dari luar itu adalah kebudayaan Hindu, Islam, Kristen dan unsur-unsur kebudayaan lain yang beraneka ragam. Semua unsur-unsur kebudayaan dari luar yang masuk diseleksi oleh bangsa Indonesia.
Kemudian sifat-sifat lain terlihat dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama yang senantiasa dilakukan dengan jalan musyawarah dan mufakat. Hal itulah yang mendorong terwujudnya persatuan bangsa Indonesia.
Jadi makna persatuan dan kesatuan bangsa dapat mewujudkan sifat kekeluargaan, jiwa gotong-royong, musyawarah dan lain sebagainya. Dari penjelasan uraian di atas dapatkah Anda memberikan contoh lain?
Iya … bagus … Nah agar Anda lebih memahami tentang persatuan dan kesatuan bangsa, akan saya jelaskan kepada Anda bagaimana tahap-tahap pembinaan persatuan bangsa Indonesia itu.
Tahap-tahap pembinaan persatuan bangsa Indonesia itu yang paling menonjol ialah sebagai berikut:
a. Perasaan senasib
Saya harap Anda sudah mengerti bukan? Karena di muka telah dijelaskan tentang perlawanan bangsa pada waktu penjajahan Portugis, Belanda, serta bangsa Jepang terhadap bangsa Indonesia. Baiklah yang berikutnya ….
b. Kebangkitan Nasional
c. Sumpah Pemuda
d. Proklamasi Kemerdekaan


Persatuan dan kesatuan perlu diwujudkan dalam kehidupan kita ,baik dalam keluarga ,bermasyarakat,bangsa dan bernegara. Dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa perlu dikembangkan nasionalisme. Bagi bangsa Indonesia sudah tentu nasionalisme yang dikembangkan adalah nasionalisme yang berdasarkan pancasila. Tanpa nasionalisme bangsa kita akan hancur. Nasionalisme dibagi menjadi dua yaitu nasionalisme dalm arti sempit yang meninggikan bangsa sendiri dan nasionalisme dalam arti luas yang menghormati bangsa lain. Nasionalisme berdasarkan pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan rakyat Indonesia terhadap bangsa dan negaranya yang di dasarkan pada nilai pancasila. Gambaran tentang kesatuan dapat dilihat pada sekat sapu lidi. Lidi yang terserak di lantai tentu kurang bermanfaat dibandingkan dengan lidi yang sudah diikat menjadi satu kesatuan yang utuh. Hal yang semacam itu tidak akan terjadi jika kita menyapu dengan lidi yang bercerai-berai karena lepas dari ikatannya. Persatuan dan kesatuan dapat melalui semboyan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Semboyan bukan untuk berperang tetapi untuk kehidupan tanpa peperangan. setiap kehidupan bersama , terlebih-lebih bersifat majemuk, sangat diperlukan kesadaran warga untuk menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan agar kehidupan bersama tersebut tetap maju dan dilestarikan.
b.



http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSFYKeE5sjd7I26i_jbkLsqT86oVkUhn33hSEYKIH-2qls3vVEHsw

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR8ZkPQ0XmnLjr2eUsqBx1ZocNW_YraOFRr4Jq1ILPSejmuAZ0G       http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRvywwGmfJy-aObektxD62YjA_xVkyF9f2p65Kr5B9blsUyBmeDww


Pengertian dari contoh sila Ke empat Pancasila yaitu:
mengutamakan musyawarah mufakat

Dalam melaksanakan kegiatan yang menjadi kepentingan bersama pasti akan ada hal-hal yang perlu dibicarakan dan diputuskan bersama. Sebagai contoh jika kita akan bersama-sama menengok orang yang sakit, kita perlu membicarakan waktu yang tepat, bagaimana kita pergi ke tempat tujuan, oleh-oleh apa yang akan dibawa, dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut tidak dibicaran terlebih dahulu, dapat dipastikan kalau kegiatan yang kita laksanakan tidak akan berjalan dengan lancar. Keputusan yang diambil bersama-sama karena menyangkut kepentingan orang banyak, disebut keputusan bersama. 

Pengambilan keputusan bersama dapat dilakukan dengan dua cara, yakni melalui musyawarah untuk mufakat dan voting (pemungutan suara). Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan musyawarah, mufakat, dan voting?
Musyawarah berasal darikata "syawara"  ( bahasa Arab ) yang berarti berunding, urun rembug, mengatakan atau menyampaikan sesuatu. Musyawarah berarti suatu proses membicarakan suatu persoalan, dengan maksud mencapai kesepakatan bersama. Kesepakatan yang telah disetujui semua peserta dalam musyawarah di sebut mufakat. Sedangkan voting adalah pengambilan keputusan bersama dengan cara menghitung suara terbanyak. Pendapat yang disetujui mayoritas peserta akan ditetapkan sebagai keputusan bersama.

Kedua cara pengambilan keputusan bersama di atas, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Pada pengambilan keputusan melalui musyawarah untuk mufakat, kemungkinan terjadinya pertikaian dan perpecahan akan lebih kecil. Karena keputusan baru diambil jika telah dicapai kesepakatan dari semua peserta musyawarah ( dicapai mufakat ). Namun cara seperti ini akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan voting. Akan butuh waktu yang panjang untuk mencari jalan tengah yang dapat diterima semua pihak, apalagi jika peserta musyawarah jumlahnya banyak. Akan sangat sulit dicapai mufakat, karena semakin banyakorang pasti akan semakin banyak pendapat dan kepentingan.

Pada cara voting, keputusan akan dapat diambil dengan waktu yang lebih singkat, namun kemungkinan terjadinya ketidak puasan dari pihak yang kalah suara, jauh lebih besar. Pihak yang pendapatnya tidak disetujui akan dengan terpaksa menerima keputusan yang akhirnya diambil, sehingga bisa terjadi perpecahan. 

Berdasarkan pertimbangan di atas, kita sebagai bangsa yang berfalsafah Pancasila,kita harus lebih mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan bersama. Sila ke empat Pancasila berbunyi " Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan" Dalam Ketetapan MPR/ No.II/MPR/1999 Pasal 79 bahkan dijelaskan bahwa pengambilan keputusan pada asasnya diusahakan sejauh mungkin dengan musyawarah untuk mufakat, apabila hal ini tidak mungkin, putusan diambil berdasarkan suara terbanyak 

Dalam pelaksanaan musyawarah, setiap orang mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan usul atau saran, namun satu hal yang harus diingat, bahwa mufakat tidak dapat dicapai dalam musyawarah, jika setiap orang memaksakan agar pendapatnya disetujui. Setiap peserta musyawarah hendaknya lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Meskipun Pasal 28 E ayat 3 UUD 1945 menjamin kebebasan setiap orang untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat, kita harus ingat bahwa orang lain memiliki hak yang sama dengan kita, jadi kebasan kita dibatasi kebebasan orang lain.Kita harus melaksanakan musyawarah dengan pikiran yang jernih, sehingga kita bisa dengan lapang dada menerima, jika pendapat orang lain lebih baik dari pendapat kita. Suatu keputusan yang telah diambil harus tetap diterima dan dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, meskipun pada awalnya keputusan tersebut tidak sejalan dengan pendapat kita, kecuali jika kesepakatan yang diambil bertentangan dengan norma hukum dan norma agama. Bagaimanapun suatu keputusan bersama harus dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan.



http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTS7IR-bfk2HTbuPMkrb0PDHZ95I4yKbFrYy0GqfYVomFgE2uY1Hg       http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7S5g0e22wWYMbvjM8-pSzXI9pJPlvLcgTCkTV5YmcqZj9C-tMRw



Pengertian contoh dari sila kelima yaitu:
mengembangkan sikap gotong royong dan kekeluargaan

 Kehidupan manusia dalam masyarakat tidak terlepas akan adanya interaksi sosial antar sesamanya. Pada dasarnya manusia sesuai dengan fitrahnya merupakan makhluk sosial yang tidak biasa hidup sendiri melainkan membutuhkan pertolongan orang lain. Oleh sebab itu didalam kehidupan masyarakat diperlukan adanya kerjasama dan sikap gotong royong dalam menyelesaikan segala permasaiahan. Masyarakat Indonesia terkenal dengan sikap ramah, kekeluargaan dan gotong royongnya didalam kehidupan sehari-hari. Sehingga untuk menyelesaikan segala problema yang ada didalam kehidupan masyarakat dibutuhkan sikap gotong royong yang dapat mempermudah dan memecahkan masalah secara efisien. Suatu bentuk dan sikap hubungan gotong royong akan mundur ataupun punah sama sekali sebagai akibat pergeseran nilai-nilai budaya. Akan tetapi sistem dan jiwa gotong royong tidak akan punah secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena adanya nilai-nilai budaya yang terkandung didalam sistem budaya, budaya agama Islam, budaya nasional merupakan suatu norma yang wajib dipatuhi oleh segenap warga masyarakat dan pemerintah. Sebagai contoh gotong royong yang berasaskan keislaman tidak akan punah melainkan mengalami pasang surut dan naik senada dengan perubahan perekonomian masyarakatnya. Dilain pihak bentuk dan sikap hubungiin gotong royong akan berubah bahkan punah, tetapi kepunahan dengan perubahan gotong royong tersebut melahirkan hubungan kerjasama atau gotong royong dalam bentuk dan sikap yang lain.
Sementara itu gotong royong ataupun tolong-menolong sangat membantu anggota masyarakat yang pada umumnya tidak mempunyai modal yang mencukupi untuk melakukan seluruh kegiatan hidupnya jika setiap transaksi kegiatan dibayar dengan uang dan benda-benda modal lainnya. Dengan demikian 31
gotong royong untuk membantu kehidupan individu keluarga sangat mempunyai arti. Dilain pihak mengharapkan kegiatan gotong royong untuk pembangunan juga diperlukan sejumlah dana yang mencukupi. Jadi tegasnya perpaduan antara kegiatan gotong royong dalam segala bentuknya dengan penyediaan-penyediaan dan dan fasilitas tertentu harus dikombinasikan sedemikian rupa sehingga pembangunan tersebut dapat dijalankan secara efektif dan efisien. Sikap gotong royong yang dilakukan masyarakat dalam kehidupannya memiliki peranan dan manfaat yang sangat penting. Dengan adanya gotong royong, segala perraasalahan dan pekerjaan yang rumit akan cepat terselesaikan jika dilakukan kerjasama dan gotong royong diantara sesama penduduk di dalam masyarakat, Pembangunan akan cepat terlaksana apabila masyarakat didalamnya bergotong royong dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan tersebut.